Tegar Remaja …adalah remaja yang:
*berperilaku sehat;
*terhindar dari risiko Seksualitas, HIV/AIDS, NARKOBA;
*menunda usia pernikahan;
*bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera;
*menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.
Kamis, 17 Maret 2011
program KRR...
Program untuk memfasilitasi remaja agar memiliki status sistem reproduksi yang sehat, dan TEGAR dari risiko triad melalui :
*Pemberian informasi
*Pelayanan konseling
*Rujukan pelayanan medis
*Pendidikan Kecakapan Hidup,
*Kegiatan khas remaja dll.
*Pemberian informasi
*Pelayanan konseling
*Rujukan pelayanan medis
*Pendidikan Kecakapan Hidup,
*Kegiatan khas remaja dll.
KRR???
Kesehatan reproduksi remaja adalah kondisi sehat yang menyangkut sistem, (fungsi,komponen dan proses) reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Kondisi sehat adalah sehat secara pisik, mental dan sosial.
kehamilan yang g diinginkan,,,aborsi...dan info alat kontrasepsi :D
Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja pada umumnya terjadi
karena:
• Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku
seksual yang dapat menyebabkan kehamilan.
• Tidak menggunakan alat kontrasepsi.
• Kegagalan alat kontrasepsi akibat remaja menggunakan alat
kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang
metode kontrasepsi yang benar.
• Akibat pemerkosaan, diantaranya oleh teman kencannya (date
rape).
*Mengapa banyak kasus KTD pada remaja yang
ditangani secara diam-diam (bukan lewat proses
medis/sepengetahuan orang tua) ?
Hukuman dari orang tua dan masyarakat sekitar lebih menakutkan
mereka daripada kekhawatiran terhadap tubuhnya sehingga banyak
dari mereka yang mengalami KTD memilih mengakhiri kehamilannya
karena takut hukuman dari orang tua dan masyarakat.Karena alasan itu pula orang pertama yang diberi tahu akan
kehamilannya bukanlah orang tua remaja putri tetapi pacarnya.
Mereka berharap sang pacar bertanggung jawab atau ikut mencarikan
solusi akan kehamilannya. Orang lain yang diberi tahu selain sang pacar
biasanya adalah sahabat terdekat.
Ketakutan akan konsekuensi psikologis (malu dan tertekan) dan social
ekonomi, reaksi awal mereka pada umumnya adalah keinginan dan
usaha untuk aborsi. Usaha aborsi awal itu menggunakan cara-cara yang
bervariasi, mulai dari self-treatment sampai meminta bantuan tenaga
medis. Usaha self-treatment itu antara lain dengan mencoba minum
jamu-jamu tradisional pelancar haid yang dijual bebas di pasaran umum
dengan dosis tinggi; dengan meminum ramuan tradisional yang diracik
sendiri seperti ragi tape dan air perasan buah nanas muda; mencoba
datang ke dukun paraji atau tukang urut tradisional; atau menenggak
minuman keras dan obat-obatan tanpa resep dengan dosis tinggi.
*akibat yang timbul jika penanganan KTD lewat
usaha Self treatment?Usaha-usaha self-treatment, kebanyakan tidak membuahkan hasil,
justru menciptakan masa menunda yang lama sebelum mereka
akhirnya mencoba mendatangi klinik kebidanan atau dokter kandungan.
Ketika mereka datang ke klinik kebidanan atau dokter kandungan,
usia kandungan mereka sudah cukup tinggi akibatnya mereka ditolak
karena risiko medis tinggi.
Tenaga medis tidak mau mengambil risiko melakukan aborsi kecuali atas
indikasi medis. Tidak semua remaja mencoba pergi ke dukun. Mereka
takut membayangkan hal-hal negatif akibat layanan yang tidak higienis dan tidak profesional menimpa mereka. Mereka mencoba usaha-usaha
self-treatment karena percaya pada cerita atau pengalaman orang lain
(biasanya teman/sahabat mereka) dan mempercayai bahwa usahausaha
itu akan berhasil menggugurkan kandungan mereka.
*ABORSI....
Secara medis, aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan
sebelum kandungan mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan secara mandiri. Tindakan aborsi
mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai
standar profesi medis, misalnya dengan cara :
• Penggunaan ramuan yang membuat panas rahim seperti nanas
muda yang dicampur dengan merica atau obat-obatan yang keras
lainnya.
• Manipulasi fisik, seperti melakukan pijatan pada rahim agar janin
terlepas dari rahim.
• Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril (misalnya
ujung bambu yang diruncingkan) yang dapat mengakibatkan infeksi
pada rahim.
*akibat yang timbul bila aborsi dilakukan
secara tidak aman
• Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan neurologis/
syaraf di kemudian hari. Pendarahan juga dapat mengakibatkan
kematian.
• Infeksi alat reproduksi karena kuretasi yang dilakukan secara tidak
steril. Hal tersebut dapat membuat remaja mengalami kemandulan
di kemudian hari setelah menikah.
• Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan penipisan
dinding rahim akibat kuretasi. Hal tersebut dapat menyebabkan
kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat seluruhnya.
• Terjadinya fistula genital traumatis. Fistula genital adalah timbulnya
suatu saluran /hubungan yang secara normal tidak ada antara
saluran genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan.
*remaja sampai mengambil tindakan aborsi
Alasan-alasan yang membuat remaja mengambil tindakan aborsi
adalah :
• Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah.
• Takut pada kemarahan orangtua.
• Belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan
mempunyai anak.
• Malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum nikah.
• Tidak mencintai pacar yang menghamili. Hubungan seks terjadi
karena iseng saja.
• Ingin terus bekerja. Bila tidak melakukan aborsi akan dipecat dari
pekerjaan karena terikat kontrak untuk tidak hamil selama 2 tahun
pertama bekerja.
• Tidak tahu status anak nantinya karena kehamilan terjadi akibat
perkosaan, terlebih bila pemerkosa tidak dikenal oleh si remaja
putri
*alat kontrasepsi...
Alat kontrasepsi (alkon) digunakan pada program keluarga berencana
untuk menunda, mengatur jarak dan mencegah terjadinya kehamilan.
Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alkon, tetapi
pada beberapa kasus di mana terjadi remaja telah seksual aktif, bahkan
kadang-kadang pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling
untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling,
dapat diketahui perilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk
dihentikan aktivitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka
dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alkon. Konselor
harus memiliki pengetahuan mengenai seluruh metode kontrasepsi
beserta jenisnya, indikasi, kontraindikasi, cara kerja, efektivitas, efek
samping, waktu penggunaan dan cara penggunaan yang benar.
*remaja tidak dianjurkan menggunakan alat
kontrasepsi
Ada beberapa hal mengapa remaja tidak dianjurkan menggunakan alat
kontrasepsi:
• Peraturan Perundang-undangan di Indonesia tidak memperbolehkan
penggunaan Alkon bagi remaja yang belum menikah;
• Ada jenis Alkon tertentu, misalnya IUD tidak boleh digunakan pada
rahim yang belum pernah hamil karena dapat merusak dinding
rahim;
• Selain itu, secara mental remaja yang menggunakan alkon akan
merasa bahwa dia dapat berperilaku seksual aktif tanpa risiko
kehamilan dalam arti dia akan permisif terhadap perilaku tersebut
dan akan sangat mudah terjadi gonta-ganti pasangan, padahal
semua alkon tetap punya angka kegagalan dan hubungan seksual
tidak hanya berakibat kehamilan tetapi juga terkena PMS (Penyakit
Menular Seksual).
Lebih baik bila jalan keluar yang dipilih adalah pengendalian dorongan
seksual, menikah atau mengalihkan ke aktivitas lain yang lebih positif.
karena:
• Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku
seksual yang dapat menyebabkan kehamilan.
• Tidak menggunakan alat kontrasepsi.
• Kegagalan alat kontrasepsi akibat remaja menggunakan alat
kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang
metode kontrasepsi yang benar.
• Akibat pemerkosaan, diantaranya oleh teman kencannya (date
rape).
*Mengapa banyak kasus KTD pada remaja yang
ditangani secara diam-diam (bukan lewat proses
medis/sepengetahuan orang tua) ?
Hukuman dari orang tua dan masyarakat sekitar lebih menakutkan
mereka daripada kekhawatiran terhadap tubuhnya sehingga banyak
dari mereka yang mengalami KTD memilih mengakhiri kehamilannya
karena takut hukuman dari orang tua dan masyarakat.Karena alasan itu pula orang pertama yang diberi tahu akan
kehamilannya bukanlah orang tua remaja putri tetapi pacarnya.
Mereka berharap sang pacar bertanggung jawab atau ikut mencarikan
solusi akan kehamilannya. Orang lain yang diberi tahu selain sang pacar
biasanya adalah sahabat terdekat.
Ketakutan akan konsekuensi psikologis (malu dan tertekan) dan social
ekonomi, reaksi awal mereka pada umumnya adalah keinginan dan
usaha untuk aborsi. Usaha aborsi awal itu menggunakan cara-cara yang
bervariasi, mulai dari self-treatment sampai meminta bantuan tenaga
medis. Usaha self-treatment itu antara lain dengan mencoba minum
jamu-jamu tradisional pelancar haid yang dijual bebas di pasaran umum
dengan dosis tinggi; dengan meminum ramuan tradisional yang diracik
sendiri seperti ragi tape dan air perasan buah nanas muda; mencoba
datang ke dukun paraji atau tukang urut tradisional; atau menenggak
minuman keras dan obat-obatan tanpa resep dengan dosis tinggi.
*akibat yang timbul jika penanganan KTD lewat
usaha Self treatment?Usaha-usaha self-treatment, kebanyakan tidak membuahkan hasil,
justru menciptakan masa menunda yang lama sebelum mereka
akhirnya mencoba mendatangi klinik kebidanan atau dokter kandungan.
Ketika mereka datang ke klinik kebidanan atau dokter kandungan,
usia kandungan mereka sudah cukup tinggi akibatnya mereka ditolak
karena risiko medis tinggi.
Tenaga medis tidak mau mengambil risiko melakukan aborsi kecuali atas
indikasi medis. Tidak semua remaja mencoba pergi ke dukun. Mereka
takut membayangkan hal-hal negatif akibat layanan yang tidak higienis dan tidak profesional menimpa mereka. Mereka mencoba usaha-usaha
self-treatment karena percaya pada cerita atau pengalaman orang lain
(biasanya teman/sahabat mereka) dan mempercayai bahwa usahausaha
itu akan berhasil menggugurkan kandungan mereka.
*ABORSI....
Secara medis, aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan
sebelum kandungan mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan secara mandiri. Tindakan aborsi
mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai
standar profesi medis, misalnya dengan cara :
• Penggunaan ramuan yang membuat panas rahim seperti nanas
muda yang dicampur dengan merica atau obat-obatan yang keras
lainnya.
• Manipulasi fisik, seperti melakukan pijatan pada rahim agar janin
terlepas dari rahim.
• Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril (misalnya
ujung bambu yang diruncingkan) yang dapat mengakibatkan infeksi
pada rahim.
*akibat yang timbul bila aborsi dilakukan
secara tidak aman
• Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan neurologis/
syaraf di kemudian hari. Pendarahan juga dapat mengakibatkan
kematian.
• Infeksi alat reproduksi karena kuretasi yang dilakukan secara tidak
steril. Hal tersebut dapat membuat remaja mengalami kemandulan
di kemudian hari setelah menikah.
• Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan penipisan
dinding rahim akibat kuretasi. Hal tersebut dapat menyebabkan
kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat seluruhnya.
• Terjadinya fistula genital traumatis. Fistula genital adalah timbulnya
suatu saluran /hubungan yang secara normal tidak ada antara
saluran genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan.
*remaja sampai mengambil tindakan aborsi
Alasan-alasan yang membuat remaja mengambil tindakan aborsi
adalah :
• Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah.
• Takut pada kemarahan orangtua.
• Belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan
mempunyai anak.
• Malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum nikah.
• Tidak mencintai pacar yang menghamili. Hubungan seks terjadi
karena iseng saja.
• Ingin terus bekerja. Bila tidak melakukan aborsi akan dipecat dari
pekerjaan karena terikat kontrak untuk tidak hamil selama 2 tahun
pertama bekerja.
• Tidak tahu status anak nantinya karena kehamilan terjadi akibat
perkosaan, terlebih bila pemerkosa tidak dikenal oleh si remaja
putri
*alat kontrasepsi...
Alat kontrasepsi (alkon) digunakan pada program keluarga berencana
untuk menunda, mengatur jarak dan mencegah terjadinya kehamilan.
Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alkon, tetapi
pada beberapa kasus di mana terjadi remaja telah seksual aktif, bahkan
kadang-kadang pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling
untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling,
dapat diketahui perilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk
dihentikan aktivitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka
dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alkon. Konselor
harus memiliki pengetahuan mengenai seluruh metode kontrasepsi
beserta jenisnya, indikasi, kontraindikasi, cara kerja, efektivitas, efek
samping, waktu penggunaan dan cara penggunaan yang benar.
*remaja tidak dianjurkan menggunakan alat
kontrasepsi
Ada beberapa hal mengapa remaja tidak dianjurkan menggunakan alat
kontrasepsi:
• Peraturan Perundang-undangan di Indonesia tidak memperbolehkan
penggunaan Alkon bagi remaja yang belum menikah;
• Ada jenis Alkon tertentu, misalnya IUD tidak boleh digunakan pada
rahim yang belum pernah hamil karena dapat merusak dinding
rahim;
• Selain itu, secara mental remaja yang menggunakan alkon akan
merasa bahwa dia dapat berperilaku seksual aktif tanpa risiko
kehamilan dalam arti dia akan permisif terhadap perilaku tersebut
dan akan sangat mudah terjadi gonta-ganti pasangan, padahal
semua alkon tetap punya angka kegagalan dan hubungan seksual
tidak hanya berakibat kehamilan tetapi juga terkena PMS (Penyakit
Menular Seksual).
Lebih baik bila jalan keluar yang dipilih adalah pengendalian dorongan
seksual, menikah atau mengalihkan ke aktivitas lain yang lebih positif.
pacaran dan hubungan seksual :) :)
*pengertian yang salah pada remaja mengenai
pembuktian cinta...
Bukti cinta di masa pacaran adalah dengan memberikan segala-galanya
termasuk keperawanan mereka. Mereka percaya bahwa hubungan
seksual membuat hubungan pacaran menjadi lebih intim
*kok bisa terjadi hubungan seksual pada remaja???
Karena janji-janji tidak akan terjadi kehamilan, dan dengan menyerahkan
keperawanan berarti cinta mereka tulus dan suci. Apabila terjadi
kehamilan pacar mereka akan bertanggung jawab. Karena awalnya
hanya sekedar coba-coba, tetapi selanjutnya menjadi ketagihan.
Karena remaja putri menggunakannya untuk mengikat pacarnya agar
tidak meninggalkan dirinya dengan memberikan keperawanan dan
melakukan hubungan seksual layaknya suami istri.
Hal ini sangat disayangkan karena rasa cinta pada pacar kita tidak perlu
dibuktikan dengan melakukan hubungan seksual.
*yang sebenarnya dibutuhkan ketika seseorang pacaran...
• Kedewasaan sikap dan pikiran artinya dalam berpacaran seseorang
harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya, kesiapan mentalnya untuk mencoba berpacaran, batasan-batasan apa yang
nanti harus dijaga selama berpacaran dan lain-lain, sehingga selama
berpacaran remaja tetap dapat mengontrol perilakunya dan tetap
sehat secara psikis, fisik dan sosial.
• Sehat secara fisik maksudnya” tidak menyakiti fisik kedua belah
pihak dalam arti tidak menimbulkan kehamilan, tidak ada kekerasan
fisik (memukul atau dipukul, menendang atau ditendang dan lainlain).
• Sehat secara psikis berarti tidak mengganggu jiwa, misalnya tidak
mengakibatkan perasaan jadi tertekan, membuat sedih, gelisah,
takut dan lain-lain.
• Sehat secara sosial maksudnya tidak mengganggu masyarakat dan
nilai-nilai yang ada di dalamnya.
*gimana sikap kita biar kehindar dari hal hal yang gag kita pengen??
Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya selama
berpacaran hindari kontak bagian tubuh yang cukup sensitif (daerah
erogen) seperti: bibir, payudara dan puting susu, pinggang, pantat,
bagian dalam paha dan daerah kelamin. Saling mengingatkan saat
pacaran perlu dibicarakan bersama pasangan. Apabila permintaan
pacar kita menurut kita bertentangan dengan ajaran dan nilai yang
kita anut dan membuat kita merasa tidak nyaman, kita harus berani
menolaknya.
Banyak remaja yang “kebablasan” dalam berpacaran dengan melakukan
hubungan seksual, hampir sebagian besar mengatakan hal itu terjadi secara aksidental, spontan atau tidak direncanakan sebelumnya.
Penyesalan baru terjadi ketika remaja putri menjadi hamil. Akibat
kehamilan ini, rasa relatif aman yang selama ini dirasakannya karena
orang lain dan masyarakat tidak mengetahui bahwa ia telah melakukan
hubungan seks pra nikah, tiba-tiba saja hilang. Kengerian akan sanksi
sosial berupa pengucilan oleh orang tua/keluarga dan pelecehan sosial
yang amat berat tiba-tiba saja hadir konkret di hadapannya.
Pada umumnya kehamilan remaja (yang belum menikah) merupakan
kehamilan yang tidak diinginkan karena mereka sebenarnya belum
siap secara mental dan fisik untuk hamil atau mempunyai anak.
pembuktian cinta...
Bukti cinta di masa pacaran adalah dengan memberikan segala-galanya
termasuk keperawanan mereka. Mereka percaya bahwa hubungan
seksual membuat hubungan pacaran menjadi lebih intim
*kok bisa terjadi hubungan seksual pada remaja???
Karena janji-janji tidak akan terjadi kehamilan, dan dengan menyerahkan
keperawanan berarti cinta mereka tulus dan suci. Apabila terjadi
kehamilan pacar mereka akan bertanggung jawab. Karena awalnya
hanya sekedar coba-coba, tetapi selanjutnya menjadi ketagihan.
Karena remaja putri menggunakannya untuk mengikat pacarnya agar
tidak meninggalkan dirinya dengan memberikan keperawanan dan
melakukan hubungan seksual layaknya suami istri.
Hal ini sangat disayangkan karena rasa cinta pada pacar kita tidak perlu
dibuktikan dengan melakukan hubungan seksual.
*yang sebenarnya dibutuhkan ketika seseorang pacaran...
• Kedewasaan sikap dan pikiran artinya dalam berpacaran seseorang
harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya, kesiapan mentalnya untuk mencoba berpacaran, batasan-batasan apa yang
nanti harus dijaga selama berpacaran dan lain-lain, sehingga selama
berpacaran remaja tetap dapat mengontrol perilakunya dan tetap
sehat secara psikis, fisik dan sosial.
• Sehat secara fisik maksudnya” tidak menyakiti fisik kedua belah
pihak dalam arti tidak menimbulkan kehamilan, tidak ada kekerasan
fisik (memukul atau dipukul, menendang atau ditendang dan lainlain).
• Sehat secara psikis berarti tidak mengganggu jiwa, misalnya tidak
mengakibatkan perasaan jadi tertekan, membuat sedih, gelisah,
takut dan lain-lain.
• Sehat secara sosial maksudnya tidak mengganggu masyarakat dan
nilai-nilai yang ada di dalamnya.
*gimana sikap kita biar kehindar dari hal hal yang gag kita pengen??
Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya selama
berpacaran hindari kontak bagian tubuh yang cukup sensitif (daerah
erogen) seperti: bibir, payudara dan puting susu, pinggang, pantat,
bagian dalam paha dan daerah kelamin. Saling mengingatkan saat
pacaran perlu dibicarakan bersama pasangan. Apabila permintaan
pacar kita menurut kita bertentangan dengan ajaran dan nilai yang
kita anut dan membuat kita merasa tidak nyaman, kita harus berani
menolaknya.
Banyak remaja yang “kebablasan” dalam berpacaran dengan melakukan
hubungan seksual, hampir sebagian besar mengatakan hal itu terjadi secara aksidental, spontan atau tidak direncanakan sebelumnya.
Penyesalan baru terjadi ketika remaja putri menjadi hamil. Akibat
kehamilan ini, rasa relatif aman yang selama ini dirasakannya karena
orang lain dan masyarakat tidak mengetahui bahwa ia telah melakukan
hubungan seks pra nikah, tiba-tiba saja hilang. Kengerian akan sanksi
sosial berupa pengucilan oleh orang tua/keluarga dan pelecehan sosial
yang amat berat tiba-tiba saja hadir konkret di hadapannya.
Pada umumnya kehamilan remaja (yang belum menikah) merupakan
kehamilan yang tidak diinginkan karena mereka sebenarnya belum
siap secara mental dan fisik untuk hamil atau mempunyai anak.
hamillll!!!!!
*masa subur...
Masa subur adalah waktu di mana sel telur yang telah matang potensial
untuk dibuahi oleh sperma. Pada seorang perempuan usia subur, setiap
bulannya secara teratur akan terjadi pematangan satu atau lebih sel
telur. Cara menghitung masa subur misalnya seseorang dengan siklus
normal yaitu 28 hari maka ovulasi diperkirakan akan terjadi pada 14
hari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk melihat rata-rata siklus
menstruasi dicatat selama 3 bulan berturut-turut. Tetapi bila siklus
menstruasinya tidak teratur 28 hari maka perlu ada penghitungan
khusus.
*proses kehamilan...
Proses ini diawali dengan proses pembuahan (konsepsi), dimana sel
telur yang matang setelah ovulasi berada di tuba falopii dibuahi oleh
sperma, yang kemudian disebut zigot. Kemudian terjadilah pembelahan
zigot menjadi 2, 4, 8 dan seterusnya, sehingga ukurannya semakin
besar, sambil berjalan dari tuba ke rongga rahim, yang memakan waktu
sekitar 6 hari. Di rongga rahim maka calon janin ini akan menempel
pada dinding rahim (proses nidasi). Setelah terjadi nidasi barulah dapat
dikatakan terjadi kehamilan.
*usia berapa sebaiknya perempuan hamil pertama
kali?
Sebaiknya kehamilan pertama terjadi pada usia antara 20-30 tahun
karena pada usia itu seorang perempuan telah siap baik secara fisik
maupun mental.
Di bawah usia 20 tahun organ reproduksi belum matang karena
masih dalam masa pertumbuhan, risikonya dapat terjadi
kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah. Pada saat
ini karena faktor pendidikan dan pekerjaan, perempuan biasa
menikah di atas usia 30 tahun, padahal ketika itu sebagian otot
dan tulang di daerah panggul sudah berkurang kelenturannya.
Sangat tidak dianjurkan untuk hamil di atas usia 40 tahun karena
risiko seperti tekanan darah tinggi, perdarahan dan lainnya.
*Apakah pada waktu hamil boleh melakukan
hubungan seksual?
Selama masa kehamilan si perempuan dalam kondisi sehat dan
tidak mengalami penyakit lainnya yang berat maka dimungkinkan
untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi sekitar 4 minggu terakhir
kehamilan sebaiknya berhati-hati ketika hubungan seksual karena
dikhawatirkan ketika
perempuan mengalami orgasme dan rahim mengalami kontraksi
dikhawatirkan bayi dapat lahir prematur. Hubungan seksual pada
waktu hamil tidak boleh dilakukan apabila :
• Terdapat pendarahan melalui vagina
• Jika sering mengalami keguguran
• Jika ketuban pecah
• Mulut rahim terbuka
Masa subur adalah waktu di mana sel telur yang telah matang potensial
untuk dibuahi oleh sperma. Pada seorang perempuan usia subur, setiap
bulannya secara teratur akan terjadi pematangan satu atau lebih sel
telur. Cara menghitung masa subur misalnya seseorang dengan siklus
normal yaitu 28 hari maka ovulasi diperkirakan akan terjadi pada 14
hari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk melihat rata-rata siklus
menstruasi dicatat selama 3 bulan berturut-turut. Tetapi bila siklus
menstruasinya tidak teratur 28 hari maka perlu ada penghitungan
khusus.
*proses kehamilan...
Proses ini diawali dengan proses pembuahan (konsepsi), dimana sel
telur yang matang setelah ovulasi berada di tuba falopii dibuahi oleh
sperma, yang kemudian disebut zigot. Kemudian terjadilah pembelahan
zigot menjadi 2, 4, 8 dan seterusnya, sehingga ukurannya semakin
besar, sambil berjalan dari tuba ke rongga rahim, yang memakan waktu
sekitar 6 hari. Di rongga rahim maka calon janin ini akan menempel
pada dinding rahim (proses nidasi). Setelah terjadi nidasi barulah dapat
dikatakan terjadi kehamilan.
*usia berapa sebaiknya perempuan hamil pertama
kali?
Sebaiknya kehamilan pertama terjadi pada usia antara 20-30 tahun
karena pada usia itu seorang perempuan telah siap baik secara fisik
maupun mental.
Di bawah usia 20 tahun organ reproduksi belum matang karena
masih dalam masa pertumbuhan, risikonya dapat terjadi
kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah. Pada saat
ini karena faktor pendidikan dan pekerjaan, perempuan biasa
menikah di atas usia 30 tahun, padahal ketika itu sebagian otot
dan tulang di daerah panggul sudah berkurang kelenturannya.
Sangat tidak dianjurkan untuk hamil di atas usia 40 tahun karena
risiko seperti tekanan darah tinggi, perdarahan dan lainnya.
*Apakah pada waktu hamil boleh melakukan
hubungan seksual?
Selama masa kehamilan si perempuan dalam kondisi sehat dan
tidak mengalami penyakit lainnya yang berat maka dimungkinkan
untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi sekitar 4 minggu terakhir
kehamilan sebaiknya berhati-hati ketika hubungan seksual karena
dikhawatirkan ketika
perempuan mengalami orgasme dan rahim mengalami kontraksi
dikhawatirkan bayi dapat lahir prematur. Hubungan seksual pada
waktu hamil tidak boleh dilakukan apabila :
• Terdapat pendarahan melalui vagina
• Jika sering mengalami keguguran
• Jika ketuban pecah
• Mulut rahim terbuka
impotensi....ehm..sepertinya mengerikan....
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan impotensi:
1. faktor psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi ketidakmampuan ereksi,
seperti rasa takut (misalnya takut ketahuan berhubungan seksual
padahal belum menikah, takut pasangan jadi hamil, takut
ketularan penyakit, dan lain-lain), kurang percaya diri, adanya
pengalaman masa kecil yang kurang baik, atau perasaan tidak
cinta dan benci pada pasangan.
2. faktor fisik
Faktor fisik bisa berupa: terlalu banyak mengkonsumsi alkohol,
karena alkohol dikenal meningkatkan nafsu tapi menurunkan
kemampuan untuk berhubungan badan, penyakit diabetes
(kencing manis) bila tingkat penyakit berat dan tidak terkontrol
dengan baik, gangguan pada kelenjar prostat, obat-obatan
tertentu, penebalan dan sumbatan pada pembuluh nadi yang
mengaliri penis misal pada penderita tekanan darah tinggi,
kerusakan pada saraf pelvis (pinggul) atau sumsum tulang
belakang. Setiap penyakit, bahkan yang ringan seperti batuk
pilek sekalipun, juga bisa mempengaruhi kemampuan seksual.
1. faktor psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi ketidakmampuan ereksi,
seperti rasa takut (misalnya takut ketahuan berhubungan seksual
padahal belum menikah, takut pasangan jadi hamil, takut
ketularan penyakit, dan lain-lain), kurang percaya diri, adanya
pengalaman masa kecil yang kurang baik, atau perasaan tidak
cinta dan benci pada pasangan.
2. faktor fisik
Faktor fisik bisa berupa: terlalu banyak mengkonsumsi alkohol,
karena alkohol dikenal meningkatkan nafsu tapi menurunkan
kemampuan untuk berhubungan badan, penyakit diabetes
(kencing manis) bila tingkat penyakit berat dan tidak terkontrol
dengan baik, gangguan pada kelenjar prostat, obat-obatan
tertentu, penebalan dan sumbatan pada pembuluh nadi yang
mengaliri penis misal pada penderita tekanan darah tinggi,
kerusakan pada saraf pelvis (pinggul) atau sumsum tulang
belakang. Setiap penyakit, bahkan yang ringan seperti batuk
pilek sekalipun, juga bisa mempengaruhi kemampuan seksual.
Langganan:
Postingan (Atom)